Kamis, 29 Juni 2023
Senin, 28 November 2022
Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan emosional
Implementasi Pembelajaran sosial emosional di kelas VI nampak seperti pada rekaman video berikut:
Di awal kegiatan pembelajaran, kompetensi sosial emosional (KSE) untuk menumbuhkan kesadaran diri dilakukan guru dengan memutarkan film pendek inspiratif. Setelahnya guru mengajak murid mendiskusikan perasaan dan hikmah yang dapat mereka pelajari dari film tersebut. Murid dapat menyebutkan hal-hal yang disyukuri dimulai dari bangun tidur hingga sampai di sekolah, guru mengajak murid untuk mengucapkan syukur.Pada kegiatan inti, guru berupaya untuk mengembangkan kesadaran diri dengan menampilkan emoji yang menggambarkan perasaan atau emosi. Murid menggambarkan emoji yang mewakili perasaannya pada lembar kertas dan saling menyampaikan perasaannya kepada teman. Kompetensi kesadaran sosial murid nampak ketika memberikan respon terhadap emosi yang dirasakan teman dan pengelolaan diri agar fokus kembali dan siap mengikuti kegiatan pembelajaran. Saat diskusi kelompok, guru memberikan kesempatan kepada murid untuk memutuskan pembagian tugas sesuai kemampuan anggota kelompok. Kegiatan ini dapat mengembangkan KSE murid dalam pengambilan keputusan yang bertangung jawab. Sedangkan untuk keterampilan berelasi murid, dikembangkan ketika melakukan diskusi bersama kelompok tim ahli dan memberikan respon ketika teman atau kelompok lain melakukan presentasi.Pada kegiatan akhir pembelajaran KSE, untuk meningkatkan keterampilan berelasi, guru menuntun murid melakukan pembiasaan mengucapkan terima kasih, memuji teman, dan pelukan persahabatan dengan menirukan kalimat guru "Hai, temanku. Terima kasih untuk hari ini. Kamu sudah menjadi penyemangatku. Tetaplah menjadi cantik/ganteng. Sampai kapanpun kamu adalah saudaraku." Kemudian berpelukan.Setelah melaksanakan pembelajaran sosial emosional, saya merasa lebih dekat dengan murid. Murid dapat menyampaikan emosi yang dirasakan dengan jujur, sehingga hubungan emosional guru dengan murid, murid dengan murid lebih baik. Hal ini juga berdampak baik pada penerimaan murid terhadap materi pembelajaran. Praktek baik pembelajaran sosial emosional ini dapat diterima dan diimplementasikan oleh guru sejawat di kelasnya. Ke depan, saya akan selalu mengupayakan pembelajaran yang berorientasi pada murid dengan memfasilitasi kebutuhan belajar murid yang berdiferensiasi dan mengembangkan kompetensi sosial emosional diri sendiri, murid, juga optimis untuk rekan sejawat.
Minggu, 27 November 2022
Aksi Nyata Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid
Rabu, 09 November 2022
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya.
- Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya' dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah pemimpin yang dapat mengelola dan mengoptimalkan peranan sumber daya yang ada sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dan berpusat pada murid. Pemimpin yang dapat menginspirasi semua warga sekolah untuk menjalin kerja sama, berkolaborasi, dan berkomitmen untuk mewujudkan visi sekolah. Pemimpin pembelajaran akan menyesuaikan program pembelajaran sesuai kebutuhan belajar murid dengan memanfaatkan kekuatan dan potensi yang ada dalam diri setiap murid juga lingkungan. Sekolah terdapat suatu bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Dalam ekosistem sekolah, faktor biotik akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lain. Yang termasuk dalam faktor abiotik adalah pengawas sekolah, kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, murid, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran diantaranya: keuangan, sarana dan prasarana. Sekolah dapat memanfaatkan dua unsur itu sebagai sumber daya yang dimiliki dan digunakan sebagai kekuatan. Sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya, yang harus dilakukan seorang pemimpin dalam ekosistem kelas, sekolah, dan masyarakat adalah dengan mengembangkan aset-aset tersebut berdasarkan kekuatan atau kelebihannya. Seorang peimpin dapat memetakan potensi aset ekosistem sekolah, mengambil keputusan yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan, mengkoordinasikan dan menyelaraskan sumber daya yang tersedia dan memaksimalkan aset untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, sekolah akan berhasil jika mampu memandang segala aset (sumber daya) yang dimiliki sebagai sebuah keunggulan bukan memandang sebagai sebuah kekurangan. Sekolah akan berfokus pada pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki. Dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah ada dua pendekatan, yaitu: pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) dan pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking). Dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya sebaiknya sekolah lebih menekankan pada pendekatan berbasis aset. Ada tujuh aset utama yang dapat diberdayakan untuk pengembangan sekolah dengan keberpihakan pada murid, diantaranya adalah modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Selanjutnya pendekatan ini lebih dikenal dengan pendekatan komunitas berbasis aset dengan menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.
- Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.
Aset yang dimiliki oleh sekolah yang dapat diberdayakan untuk mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan di kelas. Ketujuh aset sekolah tersebut dioptimalkan dengan pendekatan berbasis aset, menjadikannya sebagai kekuatan yang dapat dimanfaatkan menjadi program-program yang dapat dilaksanakan murid sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Untuk dapat mengelola sumber daya di kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah, maka seorang pemimpin harus mampu bersinergi dengan semua pihak yang ada di sekolah baik dewan guru, staff, siswa, orang tua siswa, dan juga masyarakat sekitar sekolah untuk dapat secara bersama-sama menginventarisir/memetakan segala sumber daya (aset) yang dimiliki sekolah dan menjadikan segala aset tersebut sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar murid sehingga dapat memaksimalkan minat, bakat, dan potensinya untuk peningkatan mutu sekolah.
- Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah suatu proses memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Untuk dapat menuntun sesuai kodratnya, seorang pemimpin harus mampu mengelola tujuh aset yang dimiliki sekolah. Dengan demikian maka murid akan dapat memaksimalkan minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya sebagai bekal mereka dalam menjalani kehidupannya.
Seorang pemimpin yang dapat menerapkan nilai dan peran guru penggerak, akan mampu memaksimalkan modal manusia yang dimiliki sekolah, utamanya guru agar dapat menerapkan nilai-nilai guru penggerak dalam kesehariannya seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Dengan diterapkan nilai-nilai ini maka sekolah akan dapat mewujudkan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, bergotong royong, serta kreatif.
Seorang pemimpin harus mampu menyusun visi dan misi yang jelas, terarah dan tentunya visi yang disusun berdasarkan pola berpikir berbasis aset dan berpihak pada murid. Melalui penerapan Inkuiri Apresiatif dengan menggunakan tahapan BAGJA, seorang pemimpin akan dapat melakukan perubahan sekolah berbasis sumber daya yang akan menggerakkan warga sekolah untuk melakukan perubahan positif. Perubahan positif yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan budaya positif, sehingga terwujudlah lingkungan yang nyaman dan menyenangkan.
Dalam melaksanakan pembelajaran seorang pemimpin harus mampu melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan minat, bakat, dan profil siswa (pembelajaran berdiferensiasi) dan mengembangkan kompetensi sosial emosional sehingga dapat menularkan energi positif kepada murid. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi ini maka seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memetakan aset/sumber daya yang dimiliki. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakannya akan bermakna bagi siswa.
Potensi-potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh siswa dapat kita kembangkan lebih jauh lagi dengan memperhatikan sisi sosial emosional siswa. Sebagai seorang pemimpin kita harus memahami sisi sosial emosional siswa, sehingga ketika ada siswa kita yang mengalami permasalahan maka kita akan dapat memberikan layanan berupa coaching. Coaching bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menggali potensi-potensi yang dimiliki siswa untuk dapat dikembangkan. Dengan demikian maka siswa akan dapat berkembang dengan maksimal.
Seorang pemimpin yang dapat mengambil sebuah keputusan dengan sebaik-baiknya ketika berada dalam situasi dilema etika melalui 9 langkah mengambil dan menguji keputusan, akan dapat mengambil keputusan saat melaksanakan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.
- Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.
Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya ini, ketika akan melakukan suatu program yang terkendala suatu hal, saya cenderung fokus pada kekurangan itu, sehingga program tidak jadi dilakukan. Setelah mempelajari modul ini, saya menjadi lebih terbuka akan kekuatan/aset yang sebetulnya sudah ada, namun kurang disadari. Saya dapat memetakan tujuh aset yang ada di sekitar yang dapat dimanfaatkan/diberdayakan untuk mengembangkan kegiatan sekolah yang berpihak pada murid.
Rabu, 02 November 2022
Demonstrasi Kontekstual 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Demonstrasi Kontekstual 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Pada kegiatan Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengeloaan Sumber Daya, calon guru penggerak disajikan video praktik baik dalam Pemanfaatan Aset dengan BAGJA https://www.youtube.com/watch?v=YMflitCt1yI .
Dari
video tersebut calon guru penggerak diminta menganalisis visi dan prakarsa
perubahan, mengidentifikasi kegiatan berdasarkan alur BAGJA, mengidentifikasi
peran pemimpin pembelajaran, dan menganalisis modal utama yang dimanfaatkan
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dapat diuraikan sebagai berikut.
·
Kira-kira apakah visi dari sekolah
tempat guru tersebut mengabdi?
Berdasarkan
hasil menyimak dan menganalisis video praktik baik tersebut, visi dari sekolah tersebut adalah “Terwujudnya peserta
didik yang berakhlak mulia, mandiri, kreatif, dan kolaboratif dengan lingkungan
sekolah yang nyaman dan menyenangkan”.
·
Apakah prakarsa perubahan yang akan
dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?
Adapun
prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut
adalah mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar.
·
Apakah pertanyaan utama dari kegiatan
yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?
Tahap
pertama pada alur BAGJA adalah B-uat
pertanyaan utama. Dalam video tersebut
pertanyaan utama yang muncul adalah “Bagaimana
cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar?”.
·
Kegiatan/tindakan apa yang dilakukan
oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan: BAGJA
Tahapan
BAGJA yang pertama adalah B-uat pertanyaan utama. Dengan pertanyaan
“Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar?”, tindakan
yang dilakukan adalah adalah guru mengajak rekan sejawat untuk merumuskan
pertanyaan utama dari prakarsa perubahan yang akan dilakukan, menyiapkan
pertanyaan pemantik sebagai penyemaangat belajar berdasarkan pendapat dan pengalaman
murid, meminta pendapat murid tentang situasi kelas yang menyenangkan dan
nyaman.
Pada
tahapan kedua A-mbil pelajaran, guru
mengajukan pertanyaan (1) Kelas mana yang kalian sukai yang menurut kalian
sudah membuat nyaman dan menyenangkan untuk belajar?, (2) Apa yang bisa membuat
kelas tersebut menjadi menyenangkan?,
(3) Apa yang kalian dan teman kalian sukai dari kelas tersebut dan
alasannya? (4) Apa saja yang sudah
menyenangkan dan kalian sukai dari kelas
sendiri?. Kegiatan yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah guru
memfasilitasi pembentukan kelompok murid (menjadi empat kelompok), murid
mengambil pelajaran dari kelas lain untuk menambah insprirasi kelas yang
membuat semangat dengan melakukan observasi dan tanya jawab dengan teman di
kelas 2 dan 6, murid membuat laporan observasi dan wawancaranya kemudian
mendiskusikannya di kelas bersama guru.
Tahap
ketiga adalah G-ali mimpi. Pertanyaan
yang dibuat adalah (1) Kelas seperti apa yang kalian impikan?, (2) Bagaimana bayangan
kelas yang nyaman, menyenangkan, dan menjadi penyemangat belajar?, (3) Buatlah
ilustrasi/gambar kelas yang membuat kalian bersemangat belajar!. Kegiatan yang
dilakukan adalah siswa diminta memejamkan mata, kemudian membayangkan suasana
kelas seperti apa yang diinginkan, yang nyaman, menyenangkan, dan menjadi
penyemangat belajar. Siswa mendiskusikannya bersama kelompok dan menggambarkan
kelas yang nyaman dan menyenangkan sesuai dengan yang dibayangkan, kemudian
mempresentasikannya. Guru mencatat hasil diskusi kelompok tentang kelas impian.
Tahapan
keempat J-abarkan rencana, dengan
pertanyaan “Apa yang harus kita lakukan untuk kelas impian kita?” dan “Apa saja
yang dibutuhkan untuk mewujudkan kelas impian?”. Tindakan yang dilakukan adalah
guru berdikusi dan berkolaborasi dengan murid dalam membuat daftar kebutuhan
dan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mewujudkan kelas impian.
Pada
tahap A-tur eksekusi, pertanyaan
yang dibuat adalah “Kapan waktu untuk mewujudkan kelas impian?”. Langkah eksekusi
yang dilakukan adalah membuat kesepakatan untuk menentukan waktu pelaksanaan
kegiatan yang direncanakan, guru
memfasilitasi pembentukan empat kelompok, murid diberikan kesempatan
untuk menentukan pembagian tugas dalam kelompoknya dan bekerja sama menata kelas sesuai pembagian tugas.
·
Apa peran pemimpin yang tergambar dalam
tayangan video?
Berdasarkan
tayangan video, guru melakukan perannya sebagai pemimpin pembelajaran dengan mengembangkan
lingkungan belajar berbasis aset atau kekuatan yang ada pada kelas. Guru berupaya
untuk berkolaborasi dengan murid mengidentifikasi sumber daya yang ada dengan
menggali inspirasi dari kelas lain. Guru memberikan motivasi dan mendorong
murid untuk berpikir terbuka bahwa sekolah sebagai ekosistem yang dapat saling
berhubungan dan bekerja sama mewujudkan visi sekolah, diantaranya kelas yang
nyaman dan menyenangkan.
·
Apa saja modal utama yang dimanfaatkan
oleh pemimpin pembelajaran dalam tayangan video? Lalu bagaimana pemanfaatannya?.
Modal
utama yang dimanfaatkan diantaranya adalah (1) modal manusia, meliputi: kepala
sekolah, guru, dan murid; (2) modal sosial, yaitu hubungan baik dan antusiasme warga sekolah; (3)
modal fisik, yaitu ruang kelas; (4) modal lingkungan/alam, yaitu beberapa bahan
dari alam dan sekitar yang digunakan untuk menghias kelas; (5) modal finansial,
yaitu dana sekolah dan partisipasi orang tua dalam pengadaan alat dan bahan yang
digunakan untuk menghias kelas. Modal
utama tersebut dapat dimanfaatkan dengan membangun komunikasi dan kolaborasi
atau kerja sama yang baik dengan paradigma berpikir sekolah milik bersama dan
kepentingan yang paling utama adalah untuk murid dengan mewujudkan lingkungan
positif, nyaman, dan menyenangkan.
Jumat, 21 Oktober 2022
Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik
Koneksi Antar
Materi Modul 2.3
Coaching adalah
aktivitas percakapan berlandaskan partnership
(kemitraan), tanya jawab, tujuannya untuk mengeksplorasi pikiran agar mencapai
potensi maksimal.
Paradigma
Berpikir Coaching:
1.
Fokus
pada coachee/rekan yang akan
dikembangkan
2.
Bersikap
terbuka dan ingin tahu
3.
Memiliki
kesadaran diri yang kuat
4.
Mempu
melihat peluang baru dan masa depan
Prinsip
Coaching:
1.
Partnership (kemitraan
antara coach dengan coachee)
Coach membangun
kesetaraan dengan coachee, menurunkan/menyamakan
frekuensinya agar sama dengan coachee
dan membangun hubungan yang baik kemudian bisa
naik bersama-sama.
2.
Proses
kreatif
Percakapan
dua arah, memicu proses berpikir coachee
untuk mengeksplorasi pikiran/provokasi, memetakan dan menggali situasi coachee
untuk menghasilkan ide-ide baru.
Coach harus memunculkan
pertanyaan-pertanyaan yang memprovokasi untuk menstimulasi pikiran coachee. Perspektif coach
adalah coache sudah memiliki banyak
sumber daya yang bisa dimaksimalkan untuk menemukan jawaban yang dicari.
3.
Memaksimalkan
potensi/memberdayakan
Mengakhiri
percakapan dengan rencana tindak lanjut
dan kesimpulan yang dinyatakan oleh coachee.
Prinsip
dan Paradigma Berpikir Coaching dalam
Supervisi Akademik
Prinsip dan
paradigma berpikir coaching dapat
digunakan dalam proses supervisi agar semangat yang lebih mewarnai proses
supervisi adalah semangat yang memberdayakan, bukan mengevaluasi.
Kompetensi
Inti Coaching
Tiga keterampilan coaching:
1.
Hadir
penuh (presence)
2.
Mendengarkan
aktif
3.
Mengajukan
pertanyaan berbobot
1)
Tidak
menginterogasi
2)
Tidak
mengintimidasi
3)
Tidak
mengarahkan
4)
Untuk
menggali informasi
5)
Untuk
membangun hubungan
6)
Untuk
membantu
TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.
1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,
3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.
4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
Alur TIRTA
1. Tujuan : seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih
2. Identifikasi : coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi
3. Rencana Aksi : pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat
4. Tanggung Jawab : membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya.
Koneksi Antar Materi Sebelumnya
Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu
‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat
memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu keterampilan coaching perlu
dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar
mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru
dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan
peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan
memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan
menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Dalam menjalankan
perannya, guru selalu mengedepankan nilai keperpihakan pada murid untuk
mencapai visi dengan kolaboratif
mengembangkan lingkungan yang positif. Dengan keterampilan coaching, dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang dapat
mengakomodir seluruh kebutuhan belajar individu murid dengan mengoptimalkan kemampuan
sosial dan emosional untuk menciptakan kesejahteraan psikologis (well-being).
Artikel Terpopuler
-
Kesimpulan dan Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Pendidikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Perwujud...
-
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2 Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa ketika murid sudah berada di kelas pertanda bahwa sem...
-
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1 Merefleksikan merupakan kegiatan perenungan untuk memetik hikmah, yang perlu dituangkan dalam bentu...
