Jumat, 21 Oktober 2022

Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

 

Koneksi Antar Materi Modul 2.3

Coaching adalah aktivitas percakapan berlandaskan partnership (kemitraan), tanya jawab, tujuannya untuk mengeksplorasi pikiran agar mencapai potensi maksimal.

Paradigma Berpikir Coaching:

1.      Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan

2.      Bersikap terbuka dan ingin tahu

3.      Memiliki kesadaran diri yang kuat

4.      Mempu melihat peluang baru dan masa depan

Prinsip Coaching:

1.      Partnership (kemitraan antara coach dengan coachee)

Coach membangun kesetaraan dengan coachee, menurunkan/menyamakan frekuensinya agar sama dengan coachee dan membangun hubungan yang baik kemudian bisa  naik bersama-sama.

2.      Proses kreatif

Percakapan dua arah, memicu proses berpikir coachee untuk mengeksplorasi pikiran/provokasi, memetakan dan menggali  situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru.

Coach harus memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang memprovokasi untuk menstimulasi pikiran coachee. Perspektif  coach adalah coache sudah memiliki banyak sumber daya yang bisa dimaksimalkan untuk menemukan jawaban yang dicari.

3.      Memaksimalkan potensi/memberdayakan

Mengakhiri percakapan dengan rencana tindak lanjut  dan kesimpulan yang dinyatakan oleh coachee.

Prinsip dan Paradigma Berpikir Coaching dalam Supervisi Akademik

Prinsip dan paradigma berpikir coaching dapat digunakan dalam proses supervisi agar semangat yang lebih mewarnai proses supervisi adalah semangat yang memberdayakan, bukan mengevaluasi.

Kompetensi Inti Coaching

Tiga keterampilan coaching:

1.      Hadir penuh  (presence)

2.      Mendengarkan aktif

3.      Mengajukan pertanyaan  berbobot

1)      Tidak menginterogasi

2)      Tidak mengintimidasi

3)      Tidak mengarahkan

4)      Untuk menggali informasi

5)      Untuk membangun hubungan

6)      Untuk membantu


Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA

TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.

1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.



Alur TIRTA

1. Tujuan : seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih

2. Identifikasi : coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi

3. Rencana Aksi : pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat

4. Tanggung Jawab : membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya.



Koneksi Antar Materi Sebelumnya

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada  agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Dalam menjalankan perannya, guru selalu mengedepankan nilai keperpihakan pada murid untuk mencapai visi  dengan kolaboratif mengembangkan lingkungan yang positif. Dengan keterampilan coaching, dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang dapat mengakomodir seluruh kebutuhan belajar individu murid dengan mengoptimalkan kemampuan sosial dan emosional untuk menciptakan kesejahteraan psikologis (well-being).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Terpopuler

Kesenian Karawitan Sigro-Sigro