Senin, 28 November 2022

Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan emosional

Implementasi Pembelajaran sosial emosional di kelas VI nampak seperti pada rekaman video berikut:

    Di awal kegiatan pembelajaran, kompetensi sosial emosional (KSE) untuk menumbuhkan kesadaran diri dilakukan guru dengan memutarkan film pendek inspiratif. Setelahnya guru mengajak murid mendiskusikan perasaan dan hikmah yang dapat mereka pelajari dari film tersebut. Murid dapat menyebutkan hal-hal yang disyukuri dimulai dari bangun tidur hingga sampai di sekolah, guru mengajak murid untuk mengucapkan syukur.
    Pada kegiatan inti, guru berupaya untuk mengembangkan kesadaran diri dengan menampilkan emoji yang menggambarkan perasaan atau emosi. Murid menggambarkan emoji yang mewakili perasaannya pada lembar kertas dan saling menyampaikan perasaannya kepada teman. Kompetensi kesadaran sosial murid nampak ketika memberikan respon terhadap emosi yang dirasakan teman dan pengelolaan diri agar fokus kembali dan siap mengikuti kegiatan pembelajaran. Saat diskusi kelompok, guru memberikan kesempatan kepada murid untuk memutuskan pembagian tugas sesuai kemampuan anggota kelompok. Kegiatan ini dapat mengembangkan KSE murid dalam pengambilan keputusan yang bertangung jawab. Sedangkan untuk keterampilan berelasi murid, dikembangkan ketika melakukan diskusi bersama kelompok tim ahli dan memberikan respon ketika teman atau kelompok lain melakukan presentasi.
    Pada kegiatan akhir pembelajaran KSE, untuk meningkatkan keterampilan berelasi, guru menuntun murid melakukan pembiasaan mengucapkan terima kasih, memuji teman, dan pelukan persahabatan dengan menirukan kalimat guru "Hai, temanku. Terima kasih untuk hari ini. Kamu sudah menjadi penyemangatku. Tetaplah menjadi cantik/ganteng. Sampai kapanpun kamu adalah saudaraku." Kemudian berpelukan.
    
    Setelah melaksanakan pembelajaran sosial emosional, saya merasa lebih dekat dengan murid. Murid dapat menyampaikan emosi yang dirasakan dengan jujur, sehingga hubungan emosional guru dengan murid, murid dengan murid lebih baik. Hal ini juga berdampak baik pada penerimaan murid terhadap materi pembelajaran. Praktek baik pembelajaran sosial emosional ini dapat diterima dan diimplementasikan oleh guru sejawat di kelasnya. Ke depan, saya akan selalu mengupayakan pembelajaran yang berorientasi pada murid dengan memfasilitasi kebutuhan belajar murid yang berdiferensiasi dan mengembangkan kompetensi sosial emosional diri sendiri, murid, juga optimis untuk rekan sejawat.

Minggu, 27 November 2022

Aksi Nyata Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid


Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas, saya lakukan dengan alur pembelajaran seperti pada video berikut:





Dengan model pembelajaran Jigsaw (Model Tim Ahli) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Siswa dikelompokkan secara heterogen (dari tingkat kemampuannya)

2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi dan penugasan yang berbeda

3. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka

4. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh

5. Presentasi hasil diskusi


Dari kegiatan tersebut, terdapat diferensiasi proses, yakni: pengelompokkan sesuai kemampuan murid, variasi lama waktu bagi murid yang kesulitan dan mendorong murid menjadi tutor. Untuk konten berdiferensiasi dengan adanya media bervariasi dengan lagu (audio) dan garis BiBu (visual-kinestetik).
Setelah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, saya lebih terbuka dan menerima keberagaman murid, baik dari kesiapan, minat, dan profil belajar murid. Tidak memaksakan murid untuk memahami semua materi dalam satu waktu bersamaan dengan seluruh murid. Murid juga lebih senang dan terbuka dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya.

Rabu, 09 November 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 

Tujuan Pembelajaran Khusus:  CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya.

 

  • Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya' dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.

Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah pemimpin yang dapat mengelola dan mengoptimalkan peranan sumber daya yang ada sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dan berpusat pada murid. Pemimpin yang dapat menginspirasi semua warga sekolah untuk menjalin kerja sama, berkolaborasi, dan berkomitmen untuk mewujudkan visi sekolah. Pemimpin pembelajaran akan menyesuaikan program pembelajaran sesuai kebutuhan belajar murid dengan memanfaatkan kekuatan dan potensi yang ada dalam diri setiap murid juga lingkungan. Sekolah terdapat suatu bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Dalam ekosistem sekolah, faktor biotik akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lain. Yang termasuk dalam faktor abiotik adalah pengawas sekolah, kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, murid, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran diantaranya: keuangan, sarana dan prasarana. Sekolah dapat memanfaatkan dua unsur itu sebagai sumber daya yang dimiliki dan digunakan sebagai kekuatan. Sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya, yang harus dilakukan seorang pemimpin dalam ekosistem kelas, sekolah, dan masyarakat adalah dengan mengembangkan aset-aset tersebut berdasarkan kekuatan atau kelebihannya. Seorang peimpin dapat memetakan potensi aset ekosistem sekolah, mengambil keputusan yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan, mengkoordinasikan dan menyelaraskan sumber daya yang tersedia dan memaksimalkan aset untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, sekolah akan berhasil jika mampu memandang segala aset (sumber daya) yang dimiliki sebagai sebuah keunggulan bukan memandang sebagai sebuah kekurangan. Sekolah akan berfokus pada pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki. Dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah ada dua pendekatan, yaitu: pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) dan pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking). Dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya sebaiknya sekolah lebih menekankan pada pendekatan berbasis aset. Ada tujuh aset utama yang dapat diberdayakan untuk pengembangan sekolah dengan keberpihakan pada murid, diantaranya adalah modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Selanjutnya pendekatan ini lebih dikenal dengan pendekatan komunitas berbasis aset dengan menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.

 

  • Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

Aset yang dimiliki oleh sekolah yang dapat diberdayakan untuk mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan di kelas. Ketujuh aset sekolah tersebut dioptimalkan dengan pendekatan berbasis aset, menjadikannya sebagai kekuatan yang dapat dimanfaatkan menjadi program-program yang dapat dilaksanakan murid sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Untuk dapat mengelola sumber daya di kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah, maka seorang pemimpin harus mampu bersinergi dengan semua pihak yang ada di sekolah baik dewan guru, staff, siswa, orang tua siswa, dan juga masyarakat sekitar sekolah untuk dapat secara bersama-sama menginventarisir/memetakan segala sumber daya (aset) yang dimiliki sekolah dan menjadikan segala aset tersebut sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar murid sehingga dapat memaksimalkan minat, bakat, dan potensinya untuk peningkatan mutu sekolah.

  • Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah suatu proses memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Untuk dapat menuntun sesuai kodratnya, seorang pemimpin harus mampu mengelola tujuh aset yang dimiliki sekolah. Dengan demikian maka murid akan dapat memaksimalkan minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya sebagai bekal mereka dalam menjalani kehidupannya.

Seorang pemimpin yang dapat menerapkan nilai dan peran guru penggerak, akan mampu memaksimalkan modal manusia yang dimiliki sekolah, utamanya guru agar dapat menerapkan nilai-nilai guru penggerak dalam kesehariannya seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Dengan diterapkan nilai-nilai ini maka sekolah akan dapat mewujudkan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, bergotong royong, serta kreatif.

Seorang pemimpin harus mampu menyusun visi dan misi yang jelas, terarah dan tentunya visi yang disusun berdasarkan pola berpikir berbasis aset dan berpihak pada murid. Melalui penerapan Inkuiri Apresiatif dengan menggunakan tahapan BAGJA, seorang pemimpin akan dapat melakukan perubahan sekolah berbasis sumber daya yang akan menggerakkan warga sekolah untuk melakukan perubahan positif. Perubahan positif yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan budaya positif, sehingga terwujudlah lingkungan yang nyaman dan menyenangkan.

Dalam melaksanakan pembelajaran seorang pemimpin harus mampu melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan minat, bakat, dan profil siswa (pembelajaran berdiferensiasi) dan mengembangkan kompetensi sosial emosional sehingga dapat menularkan energi positif kepada murid. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi ini maka seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memetakan aset/sumber daya yang dimiliki. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakannya akan bermakna bagi siswa.

Potensi-potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh siswa dapat kita kembangkan lebih jauh lagi dengan memperhatikan sisi sosial emosional siswa. Sebagai seorang pemimpin kita harus memahami sisi sosial emosional siswa, sehingga ketika ada siswa kita yang mengalami permasalahan maka kita akan dapat memberikan layanan berupa coaching. Coaching bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menggali potensi-potensi yang dimiliki siswa untuk dapat dikembangkan. Dengan demikian maka siswa akan dapat berkembang dengan maksimal. 

Seorang pemimpin yang dapat mengambil sebuah keputusan dengan sebaik-baiknya ketika berada dalam situasi dilema etika melalui 9 langkah mengambil dan menguji keputusan, akan dapat mengambil keputusan saat melaksanakan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

  • Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya ini, ketika akan melakukan suatu program yang terkendala suatu hal, saya cenderung fokus pada kekurangan itu, sehingga program tidak jadi dilakukan. Setelah mempelajari modul ini, saya menjadi lebih terbuka akan kekuatan/aset yang sebetulnya sudah ada, namun kurang disadari. Saya dapat memetakan tujuh aset yang ada di sekitar yang dapat dimanfaatkan/diberdayakan untuk mengembangkan kegiatan sekolah yang berpihak pada murid.


Rabu, 02 November 2022

Demonstrasi Kontekstual 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Demonstrasi Kontekstual 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pada kegiatan Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengeloaan Sumber Daya, calon guru penggerak disajikan video praktik baik dalam Pemanfaatan Aset dengan BAGJA https://www.youtube.com/watch?v=YMflitCt1yI



Dari video tersebut calon guru penggerak diminta menganalisis visi dan prakarsa perubahan, mengidentifikasi kegiatan berdasarkan alur BAGJA, mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran, dan menganalisis modal utama yang dimanfaatkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dapat diuraikan sebagai berikut.

·         Kira-kira apakah visi dari sekolah tempat guru tersebut mengabdi?

Berdasarkan hasil menyimak dan menganalisis video praktik baik tersebut, visi dari  sekolah tersebut adalah “Terwujudnya peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, kreatif, dan kolaboratif dengan lingkungan sekolah yang nyaman dan menyenangkan”.

·         Apakah prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?

Adapun prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut adalah mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar.

·         Apakah pertanyaan utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?

Tahap pertama pada alur BAGJA adalah  B-uat pertanyaan utama. Dalam  video tersebut pertanyaan utama yang  muncul adalah “Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar?”.

·         Kegiatan/tindakan apa yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan: BAGJA

Tahapan BAGJA  yang pertama adalah B-uat pertanyaan utama. Dengan pertanyaan “Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar?”, tindakan yang dilakukan adalah adalah guru mengajak rekan sejawat untuk merumuskan pertanyaan utama dari prakarsa perubahan yang akan dilakukan, menyiapkan pertanyaan pemantik sebagai penyemaangat belajar berdasarkan pendapat dan pengalaman murid, meminta pendapat murid tentang situasi kelas yang menyenangkan dan nyaman.

Pada tahapan kedua A-mbil pelajaran, guru mengajukan pertanyaan (1) Kelas mana yang kalian sukai yang menurut kalian sudah membuat nyaman dan menyenangkan untuk belajar?, (2) Apa yang bisa membuat kelas tersebut menjadi menyenangkan?,  (3) Apa yang kalian dan teman kalian sukai dari kelas tersebut dan alasannya? (4) Apa  saja yang sudah menyenangkan dan kalian  sukai dari kelas sendiri?. Kegiatan yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah guru memfasilitasi pembentukan kelompok murid (menjadi empat kelompok), murid mengambil pelajaran dari kelas lain untuk menambah insprirasi kelas yang membuat semangat dengan melakukan observasi dan tanya jawab dengan teman di kelas 2 dan 6, murid membuat laporan observasi dan wawancaranya kemudian mendiskusikannya di kelas bersama guru.

Tahap ketiga adalah G-ali mimpi. Pertanyaan yang dibuat adalah (1) Kelas seperti apa yang kalian impikan?, (2) Bagaimana bayangan kelas yang nyaman, menyenangkan, dan menjadi penyemangat belajar?, (3) Buatlah ilustrasi/gambar kelas yang membuat kalian bersemangat belajar!. Kegiatan yang dilakukan adalah siswa diminta memejamkan mata, kemudian membayangkan suasana kelas seperti apa yang diinginkan, yang nyaman, menyenangkan, dan menjadi penyemangat belajar. Siswa mendiskusikannya bersama kelompok dan menggambarkan kelas yang nyaman dan menyenangkan sesuai dengan yang dibayangkan, kemudian mempresentasikannya. Guru mencatat hasil diskusi kelompok tentang kelas impian.

Tahapan keempat J-abarkan rencana, dengan pertanyaan “Apa yang harus kita lakukan untuk kelas impian kita?” dan “Apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan kelas impian?”. Tindakan yang dilakukan adalah guru berdikusi dan berkolaborasi dengan murid dalam membuat daftar kebutuhan dan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mewujudkan kelas impian.

Pada tahap A-tur eksekusi, pertanyaan yang dibuat adalah “Kapan waktu untuk mewujudkan kelas impian?”. Langkah eksekusi yang dilakukan adalah membuat kesepakatan untuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan yang direncanakan, guru  memfasilitasi pembentukan empat kelompok, murid diberikan kesempatan untuk menentukan pembagian tugas dalam kelompoknya dan bekerja sama menata  kelas sesuai pembagian tugas.

·         Apa peran pemimpin yang tergambar dalam tayangan video?

Berdasarkan tayangan video, guru melakukan perannya sebagai pemimpin pembelajaran dengan mengembangkan lingkungan belajar berbasis aset atau kekuatan yang ada pada kelas. Guru berupaya untuk berkolaborasi dengan murid mengidentifikasi sumber daya yang ada dengan menggali inspirasi dari kelas lain. Guru memberikan motivasi dan mendorong murid untuk berpikir terbuka bahwa sekolah sebagai ekosistem yang dapat saling berhubungan dan bekerja sama mewujudkan visi sekolah, diantaranya kelas yang nyaman dan menyenangkan.

·         Apa saja modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalam tayangan video? Lalu bagaimana pemanfaatannya?.

Modal utama yang dimanfaatkan diantaranya adalah (1) modal manusia, meliputi: kepala sekolah, guru, dan murid; (2) modal sosial, yaitu  hubungan baik dan antusiasme warga sekolah; (3) modal fisik, yaitu ruang kelas; (4) modal lingkungan/alam, yaitu beberapa bahan dari alam dan sekitar yang digunakan untuk menghias kelas; (5) modal finansial, yaitu dana sekolah dan partisipasi orang tua dalam pengadaan alat dan bahan yang digunakan  untuk menghias kelas. Modal utama tersebut dapat dimanfaatkan dengan membangun komunikasi dan kolaborasi atau kerja sama yang baik dengan paradigma berpikir sekolah milik bersama dan kepentingan yang paling utama adalah untuk murid dengan mewujudkan lingkungan positif, nyaman, dan menyenangkan.

Artikel Terpopuler

Kesenian Karawitan Sigro-Sigro