Rabu, 01 Juni 2022

Demonstrasi Kontekstual 1.1 Filosofi Ki Hadjar Dewantara dalam Karya Puisi

BERKACA

Buah Karya : Siti Muntamah, S.Pd.


Berkaca pada filosofi Ki Hadjar Dewantara

Bahwa setiap jiwa memiliki kodratnya sendiri

Terlahir bak sehelai kertas yang penuh tulisan samar-samar

Sang juru didik menuntun

menebalkan, bakhan memudarkan

Ing ngarsa sung tuladha, juru didik menjadi panutan

menjadi model baik yang patut ditebalkan

Ing madya mangun karsa, juru didik membangun kemauan

memudarkan yang suram

Tut wuri handayani, memberi semangat

berbudaya, berbudi pekerti


Keluarga, sekolah, masyarakat

adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat menyemai benih kehidupan

Seperti pemeliharaan pada tumbuh-kembangnya tanaman

Pun manusia, tuntunan diperlukan

Sekalipun sudah baik, keadaan


Berkaca pada tukang pengukir kayu

Mencipta ukiran dengan keindahan-keindahannya

Sementara ia tahu

Ada kayu yang keras dan tidak keras

Ada ukiran halus pun yang kasar

Ia tidak egois

Sesama pengukir, ia menggali insprirasi

Etika dan estetika ia tekuni

Untuk karya ukiran yang diminati

kini pun nanti

Di tanah sendiri dan luar negeri


Lalu, sang juru didik merefleksi

Dengan dalih mengabdi

Sudahkah, aku mengukir manusia sesuai kodratnya

sedang aku lupa belajar caranya bahagia

Seikhlas apa penghambaanku

Sehingga,

menjadi pembelajar sepanjang hayat tak membuatku malu

Teguhkah keinsyafanku

Menuntun manusia intelek yang menguasai diri

Tajam nalar, kuat fisik, dan halus budi


Sudahkah, aku menjadi pamong

Melatih lahir, mendidik batin

Menyatukan permainan dalan pelajaran panca indera

Tak melupakan kultur, yang memperkaya bangsa

Mewariskan nilai-nilai, menumbuhkan diri yang merdeka

Selamatkan raga, bahagiakan jiwa

Memancar setinggi-tingginya semesta


Pembelajar sejati yang merdeka


Salam merdeka belajar, salam bahagia

Selamat mendengarkan Puisi "Berkaca" 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Terpopuler

Kesenian Karawitan Sigro-Sigro