BERKACA
Buah Karya : Siti Muntamah, S.Pd.
Berkaca pada filosofi Ki Hadjar Dewantara
Bahwa setiap jiwa memiliki kodratnya sendiri
Terlahir bak sehelai kertas yang penuh tulisan samar-samar
Sang juru didik menuntun
menebalkan, bakhan memudarkan
Ing ngarsa sung tuladha, juru didik menjadi panutan
menjadi model baik yang patut ditebalkan
Ing madya mangun karsa, juru didik membangun kemauan
memudarkan yang suram
Tut wuri handayani, memberi semangat
berbudaya, berbudi pekerti
Keluarga, sekolah, masyarakat
adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat menyemai benih kehidupan
Seperti pemeliharaan pada tumbuh-kembangnya tanaman
Pun manusia, tuntunan diperlukan
Sekalipun sudah baik, keadaan
Berkaca pada tukang pengukir kayu
Mencipta ukiran dengan keindahan-keindahannya
Sementara ia tahu
Ada kayu yang keras dan tidak keras
Ada ukiran halus pun yang kasar
Ia tidak egois
Sesama pengukir, ia menggali insprirasi
Etika dan estetika ia tekuni
Untuk karya ukiran yang diminati
kini pun nanti
Di tanah sendiri dan luar negeri
Lalu, sang juru didik merefleksi
Dengan dalih mengabdi
Sudahkah, aku mengukir manusia sesuai kodratnya
sedang aku lupa belajar caranya bahagia
Seikhlas apa penghambaanku
Sehingga,
menjadi pembelajar sepanjang hayat tak membuatku malu
Teguhkah keinsyafanku
Menuntun manusia intelek yang menguasai diri
Tajam nalar, kuat fisik, dan halus budi
Sudahkah, aku menjadi pamong
Melatih lahir, mendidik batin
Menyatukan permainan dalan pelajaran panca indera
Tak melupakan kultur, yang memperkaya bangsa
Mewariskan nilai-nilai, menumbuhkan diri yang merdeka
Selamatkan raga, bahagiakan jiwa
Memancar setinggi-tingginya semesta
Pembelajar sejati yang merdeka
Salam merdeka belajar, salam bahagia
Selamat mendengarkan Puisi "Berkaca"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar