Rabu, 15 Juni 2022

Demonstrasi Kontekstual 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

Gambaran Diri sebagai Guru Penggerak di Masa Depan 

    Seorang pemimpin di lingkungan sekolah harus memiliki 4 kategori kompetensi, yaitu: mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Sebagai seorang guru penggerak diharapkan mempunyai kompentensi-kompetensi tersebut untuk dapat menjalankan perannya sebagai guru penggerak, yang meliputi:

  1. menjadi pemimpin pembelajaran
  2. menjadi coach bagi guru lain
  3. mendorong kolaborasi
  4. mewujudkan kepemimpinan murid
  5. menggerakkan komunitas praktisi
         Peran-peran guru penggerak tersebut dimulai dengan pendalaman dan penerapan nilai-nilai positif guru penggerak, yang meliputi: 
  1. berpihak pada murid
  2. mandiri
  3. reflektif
  4. kolaboratif
  5. inovatif
Lebih jelas gambaran diri saya sebagai guru penggerak di masa mendatang, silakan simak video berikut: Demontrasi Kontekstual Nilai dan Peran Guru Penggerak 


Senin, 06 Juni 2022

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1 MODEL 4F

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1 


Merefleksikan merupakan kegiatan perenungan untuk memetik hikmah, yang perlu dituangkan dalam bentuk catatan di setiap akhir kegiatan pembelajaran, sebagai rekam jejak kemajuan, bahan evaluasi dan langkah-langkah pengambilan tindak lanjut. Pada pembelajaran modul 1.1 tentang filosofi Ki Hadjar Dewantara ini direfleksikan dalam catatan dengan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 

    1. Facts (Peristiwa) 

            Pendidikan guru penggerak yang waktu itu dimulai dengan pembukaan pada tanggal 18 Mei 2022 melalui live streaming youtube memberikan banyak wawasan terkait proses yang harus dilalui selama pendidikan enam bulan. Penjelasan pada pembukaan yang diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai daerah itu sangat memotivasi saya untuk dapat komitmen belajar secara mandiri dan kolaboratif. Setelah dua hari belajar mandiri memahami kembali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan dari modul 1.1 di LMS dan sumber lain di internet, saya menyadari ada yang kurang tepat dalam pembelajaran dan pola pikir saya. Hal ini diperkuat ketika forum diskusi melalui virtual meeting bersama rekan pesera guru penggerak, pengajar praktik, dan fasilitator selaku pemantik atas terbukanya mindset baru tentang peran guru dalam “menuntun” murid. 
Proses pendidikan guru penggerak ini terasa dapat berjalan baik setelah pertemuan Lokakarya 0 atau orientasi. Seperti mendapatkan angin segar karena di sana dihadirkan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang bersama-sama telah menyampaikan kekhawatiran dan harapan-harapan dari program ini. Dari pertemuan itu, pengajar praktik memberikan lembar kerja untuk memberikan gambaran aksi nyata yang akan saya lakukan untuk pengembangan diri dan sekolah, namun tugas yang harus dikumpulkan secepatnya itu saya belum benar-benar yakin karena belum mengomunikasikannya bersama warga sekolah. 
        Selain tugas mandiri, pada kegiatan modul 1.1 refleksi filosofis pendidikan KHD ini juga disediakan ruang kolaborasi untuk membahas tugas kelompok terkait kekuatan konteks sosio-kultural dari masing-masing peserta CGP yang sejalan dengan pemikiran KHD untuk menebalkan laku murid. Setelah penyampaian pendapat setiap CGP, diambillah satu kesepakatan bahan yang akan dipresentasikan. Dari tanggapan dan presentasi kelompok lain, kegiatan ini menumbuhkan kembali semangat saya untuk mengembangkan program seni karawitan yang sudah berjalan di sekolah namun belum maksimal. 
          Setelah mendemonstrasikan pemikiran KHD dalam karya, dan puisi sebagai karya yang mewakili pemikiran saya selama merefleksikan pemikiran KHD, saya kembali mendapatkan pencerahan atas persamaan perspektif dari instruktur dan pendapat dari peserta lain pada kegiatan elaborasi konsep.
Selama dua minggu pertama pendidikan guru penggerak ini saya mengalami kesulitan beradaptasi membagi waktu. Saya lebih fokus pada kegiatan langsung di lapangan karena dalam masa pemulihan citra baik sekolah sehingga mengesampingkan tugas LMS. Namun demikian, dengan komitmen awal saya tetap mengupayakan dapat menyelesaikan tugas LMS dengan sepenuh hati. 

    2. Feelings (Perasaan) 

            Awalnya saya merasa kegiatan dan tugas di LMS akan mengganggu waktu pembelajaran di kelas, namun saya bersyukur karena kegiatan temu maya dilakukan setelah jam sekolah dan tugas di LMS pun bisa saya kerjakan dengan waktu dan bentuk karya yang merdeka, namun saya juga perlu memenej waktu lebih baik. 
Saya sangat senang bisa belajar bersama orang-orang yang bagi saya, mereka adalah orang-orang hebat, semangat tinggi mereka memberikan energi positif bagi saya dan saya sangat mengagumi setiap pemikiran-pemikiran yang mereka sampaikan. Hal itu tidak membuat saya minder, namun saya yang tidak suka berbicara di depan orang banyak, merasa butuh waktu lebih banyak untuk dapat beradaptasi. Untuk itu, saya juga perlu meningkatkan literasi untuk penguasaan materi. 

    3. Findings (Pembelajaran) 

            Proses pendidikan guru penggerak yang telah berlangsung selama dua minggu ini sangat membuka pandangan saya tentang dunia anak bersama pendidikannya. Semboyan KI Hadjar Dewantara, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani yang sejak lama dikenal ini belum cukup membuat saya meresapi maknanya. Namun setelah mempelajari modul 1.1 yang dilakukan secara mandiri, berkelompok dan virtual meeting berbagi refleksi dengan instruktur, fasilitator, pengajar praktik, dan rekan-rekan CGP, saya rasa dapat berkaca dan mengintrospeksi diri tentang pemikiran saya sebelumnya. 
                Selama dua minggu pertama banyak hal yang saya pelajari. Tentang tujuan pendidikan yang semestinya sebagai pendidik, saya harus dapat menuntun murid mencapai keselamatan dan kebahagian sesuai kodrat alam dan zamannya dengan menebalkan laku dan budi pekerti luhur dan berbudaya. “Kowe bakal dak mulyakake selawase” kalimat KHD itulah yang membuka hati saya untuk dapat menghamba kepada murid dengan setulusnya. 
Kegiatan yang dilakukan dengan merefleksi ini, memaksa saya untuk dapat menilai dan menuangkannya dalam karya. Dan menulis adalah tantangan bagi saya. Refleksi yang memerdekakan ini, memotivasi saya untuk kembali membuka blog dan menekuni kembali keterampilan mengedit video. 

    4. Future (Penerapan) 

            Dengan belajar dan berbagi selama dua minggu proses pendidikan guru penggerak, banyak pengalaman yang secepatnya perlu diterapkan dalam pembelajaran maupun dalam lingkungan sekolah. Perlahan hasil refleksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dapat kami terapkan di lingkungan sekolah. Menciptakan pembelajaran yang lebih menyenangkan dengan permainan dan lebih terbuka akan pendapat murid, sehingga sumber belajar tidak lagi hanya berasal dari guru. Dengan memberikan gambaran sikap positif yang akan mereka lalui dalam tujuan pembelajaran dan tidak memaksakan murid untuk menguasai sesuatu yang dipilihkan oleh guru, ternyata membuat murid lebih bahagia dan menikmati pilihan mereka. Sikap ini nampak ketika mereka diajak untuk membuat kesepakatan bersama menyusun kegiatan pelepasan kelas VI. Mereka dengan senang hati memilih penampilan yang diminati. Kegiatan ini akan masuk dalam aksi nyata sebagai refleksi modul 1.1 ini.

Kamis, 02 Juni 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

 Kesimpulan dan Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara



    Pendidikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Perwujudan "menuntun" dalam konteks sosial budaya adalah ketika guru berperan sebagai pamong yang dapat memposisikan diri sebagai teladan ketika di depan, mendampingi membangun kreativitas, dan mengikuti memberikan penguatan atau dukungan. Guru sadar betul posisinya dengan berperan sebagai pamong, yang paham kapan harus bisa momong, among, dan ngemong. Momong itu merawat dengan menanamkan sesuatu atau kebiasaan yang baik. Kapan guru bisa among, dengan memberi contoh tanpa memaksa. Dan ngemong, yaitu mengamati, merawat, menjaga agar potensi anak berkembang dengan optimal.

        Untuk itu yang dapat dilakukan guru untuk dapat “menuntun” dalam mewujudkan pendidikan anak yang relevan dengan konteks sosial budaya adalah guru memberikan tuntunan dan arahan sebagaimana kehidupan sosial budaya yang terjadi pada lingkungan anak, mengembangkan keterampilan anak untuk dapat mengadaptasikan dirinya untuk hidup bersama orang lain dengan selamat dan bahagia.

          Oleh karenanya, pendidikan anak perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Anak dituntun untuk memahami karakter lingkungan yang berbeda-beda supaya ke depannya dapat mengelola dirinya sesuai alam yang ditempati. Dalam menghadapi perkembangan zaman, selain anak, guru juga diharuskan mampu untuk mengikutinya sebagai teladan bagi anak untuk dapat memanfaatkan keterampilan abad ke-21 dengan sebaik-baiknya manfaat. Namun perkembangan zaman ini juga perlu mempertimbangkan kemampuan alam atau lingkungan. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena keadaan dan zaman anak sekarang sudah sangat berbeda jauh dengan keadaan dan zaman kita. Tentunya kebutuhan mereka pun juga berbeda, menyesuaikan perkembangan. Hal ini sangat perlu dipertimbangkan untuk anak supaya dapat membawa diri sebagai manusia yang dapat memerdekakan diri.

        Pendidikan yang berhamba pada anak adalah sebagai guru benar-benar tulus ikhlas memahami karakteristik anak yang berbeda-beda, dengan segala permasalahan dan pemecahannya. Menuntun anak untuk dapat mengenali dan mengembangkan potensinya. Dengan menghamba, guru dapat meciptakan pendidikan dan pengajaran yang dapat menjadi kendali bagi tabiat-tabiat anak yang tidak baik dan dapat menebalkan dasar jiwa yang baik, sehingga nampak budi pekerti yang baik. 


Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?

        Awalnya, bagi saya murid adalah manusia yang terlahir murni dan baik sampai pada akhirnya dia akan tumbuh mempunyai karakter-karakter yang tidak baik, yang terbentuk karena pengaruh lingkungan sekitar. Dengan dia menjadi cerdas karena hasil dari pendidikan, maka karakter itu bisa berubah. Misalnya, anak dengan karakter pemalu, setelah dia mendapatkan pendidikan, dia berubah menjadi tidak lagi pemalu atau menjadi pemberani.  Anak dengan watak pembangkang akan berubah menjadi lebih bijaksana setelah dia mendapatkan pengajaran.

        Sedangkan pembelajaran di kelas yang sebelumnya saya percayai adalah pembelajaran yang menunjukkan kepada murid tentang pentingnya mempelajari pelajaran hari ini. Seperti yang sudah terjadi di awal pembelajaran, saya sering menyampaikan kepada murid tentang apa saja manfaat mempelajari materi pelajaran pada hari itu yang lebih cenderung ke ranah kognitif dan psikomotorik. Dengan pertanyaan yang sering muncul adalah “Kalian mau jadi apa?”, seringkali saya lupa menyampaikan manfaat dari segi afektifnya, sehingga fokus awal hingga akhir pembelajaran tidak lagi untuk membentuk karakter baik yang seharusnya dicapai.

 

Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?

        Setelah mempelajari modul yang berisi pemikiran-pemikiran tentang pendidikan dan pengajaran dari filsafat Ki Hadjar Dewantara, pola pikir saya berubah. Menurut teori konvergensi, watak manusia dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian yang intelligible yang berhubungan dengan kecerdasan pikiran (intelek) dan bagian biologis yang  berhubungan dengan dasar hidup manusia (perasaan). Pikiran dapat berubah menurut pengaruh pendidikan atau keadaan, sedangkan perasaan mulai dari anak masih kecil hingga dewasa ini tidak dapat berubah. Yang menjadikan anak pemalu nampak menjadi lebih berani, bukan karena dia sudah tidak malu lagi. Atau anak pembangkang sudah tidak akan pernah lagi membangkang. Namun anak tersebut sudah mulai pandai menguasai diri karena kecerdasan pikirannya menimbang atau menahan nafsunya yang asli. Anak yang mengalami kelemahan berpikir, dia akan lebih berwawasan luas dan cerdas setelah pemahamannya lebih baik. Sehingga dari baiknya pemahamannya itu, akan membuatnya memikirkan akibat dari membangkang, dan akan menutupi rasa takutnya. Akan tetapi, watak atau tabiat aslinya itu akan muncul dengan sendiri ketika dia tidak sempat memikirkan segala keadaannya. Sifat inilah yang muncul sebagai budi pekerti, yaitu tenaga atau perilaku yang timbul dari gerak pikiran, perasaan, dan kehendak. Dengan demikian, saya sadar bahwa yang terpenting dalam tujuan pendidikan adalah manusia yang dapat menguasai diri. Sehingga, sebagai pendidik saya perlu memotivasi dan memberikan pendidikan dan segala pengalaman yang berpengaruh besar pada budi pekerti.

        Hal ini juga memberikan pencerahan kepada saya tentang pandangan saya sebelumnya, yang sering hanya menyampaikan tujuan pembelajaran dari ranah kognitif dan psikomotorik saja, tanpa memberikan refleksi afektifnya. Ini tak jauh berbeda dengan pendidikan pada jaman kolonial yang hanya mencetak calon-calon pekerja. Oleh karena itu, pendidikan afektif ini sangat penting untuk mewujudkan manusia beradab dan berbudi pekerti yang selamat dan bahagia. Dengan demikian saya perlu mengembangkan rangkaian proses pembelajaran yang holistik, antara kecerdasan cipta, rasa, dan karsa.

 

Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

        Yang perlu saya terapkan dalam pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD, antara lain:

  1. Melakukan asessmen diagnostik untuk memahami karakteristik murid, baik watak, kemampuan, minat, dan bakatnya;
  2. Menyusun rencana dan mengaplikasikan suasana pembelajaran yang mendorong murid dapat mengembangkan kognitif, psikomotorik, dan afektifnya. Sehingga proses yang berlangsung di kelas itu dapat menebalkan watak atau tabiat yang baik dan menahan tabiat biologis yang tidak baik. Hal  ini dapat dimulai ketika membuka pembelajaran dengan membuat kesepakatan bersama yang akan dicapai dalam tujuan pembelajaran dengan siswa sebagai subjek belajar;
  3. Memberikan apersepsi dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memberikan gambaran dari tujuan belajar yang lebih luas. Dari sini murid dapat mengenali diri dan lebih menghargai dirinya dan orang lain dan membuat keputusan yang baik;
  4. Memberikan ruang kepada murid untuk menyatakan perasaan dan merefleksi pembelajaran, baik dari guru, teman sejawat, dan lingkungan belajar.

            Untuk dapat menerapkan semua itu, saya juga perlu berkomunikasi, berbagi dan belajar kepada rekan sejawat, wali murid, dan lingkungan masyarakat.

Rabu, 01 Juni 2022

Demonstrasi Kontekstual 1.1 Filosofi Ki Hadjar Dewantara dalam Karya Puisi

BERKACA

Buah Karya : Siti Muntamah, S.Pd.


Berkaca pada filosofi Ki Hadjar Dewantara

Bahwa setiap jiwa memiliki kodratnya sendiri

Terlahir bak sehelai kertas yang penuh tulisan samar-samar

Sang juru didik menuntun

menebalkan, bakhan memudarkan

Ing ngarsa sung tuladha, juru didik menjadi panutan

menjadi model baik yang patut ditebalkan

Ing madya mangun karsa, juru didik membangun kemauan

memudarkan yang suram

Tut wuri handayani, memberi semangat

berbudaya, berbudi pekerti


Keluarga, sekolah, masyarakat

adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat menyemai benih kehidupan

Seperti pemeliharaan pada tumbuh-kembangnya tanaman

Pun manusia, tuntunan diperlukan

Sekalipun sudah baik, keadaan


Berkaca pada tukang pengukir kayu

Mencipta ukiran dengan keindahan-keindahannya

Sementara ia tahu

Ada kayu yang keras dan tidak keras

Ada ukiran halus pun yang kasar

Ia tidak egois

Sesama pengukir, ia menggali insprirasi

Etika dan estetika ia tekuni

Untuk karya ukiran yang diminati

kini pun nanti

Di tanah sendiri dan luar negeri


Lalu, sang juru didik merefleksi

Dengan dalih mengabdi

Sudahkah, aku mengukir manusia sesuai kodratnya

sedang aku lupa belajar caranya bahagia

Seikhlas apa penghambaanku

Sehingga,

menjadi pembelajar sepanjang hayat tak membuatku malu

Teguhkah keinsyafanku

Menuntun manusia intelek yang menguasai diri

Tajam nalar, kuat fisik, dan halus budi


Sudahkah, aku menjadi pamong

Melatih lahir, mendidik batin

Menyatukan permainan dalan pelajaran panca indera

Tak melupakan kultur, yang memperkaya bangsa

Mewariskan nilai-nilai, menumbuhkan diri yang merdeka

Selamatkan raga, bahagiakan jiwa

Memancar setinggi-tingginya semesta


Pembelajar sejati yang merdeka


Salam merdeka belajar, salam bahagia

Selamat mendengarkan Puisi "Berkaca" 


Refleksi Kritis tentang Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara                        Sumber gambar: tribunnews.com

Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah tuntunan dalam hidup dan tumbuhnya anak sesuai dengan kekuatan kodratnya sendiri yang belum dipengaruhi oleh keadaan di luar dirinya. Sedangkan pengajaran adalah salah satu bagian dari cara bagaimana pendidikan  tersebut dapat tercapai sesuai tujuannya, yakni memanusiakan manusia sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pengajaran ini dilakukan dengan cara membekali ilmu cipta, rasa, dan karsa yang berfaedah sebagai tuntutan dalam hidup lahir dan batin anak yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Sehingga kodrat anak tersebut dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal.

Pemikiran KHD mempunyai relevansi dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini, yang  telah mengupayakan dapat berjalan sebagaimana pemikiran KHD, yakni pendidikan yang berpusat pada peserta didik. Dengan adanya perubahan dan pengembangan kurikulum demi kepentingan peserta didik, menghimbau guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran, sehingga peserta didik lebih banyak berperan dalam proses pembelajaran.

Namun pada konteks pendidikan di sekolah saat ini, pendidikan belum sepenuhnya berpusat pada peserta didik. Meskipun belum maksimal, guru sedang mengupayakan untuk merubah mindset tentang pendidikan yang hanya terjadi di kelas dan guru sebagai satu-satunya pentransfer ilmu. Upaya ini perlu waktu dan kesadaran bagi seluruh pelaku pendidikan. Perlu kesadaran bagi guru untuk menghargai dan mengembangkan kekurangan dan kelebihan anak sebagai kekuatan kodratnya, serta melakukan pendekatan untuk menjaga hubungan emosinal.

Dalam menjalankan aktivitas sebagai guru, saya menjumpai bermacam karakteristik anak. Pembelajaran jarak jauh yang sempat terjadi saat itu sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya kodrat anak. Karena kehadiran fisik guru tidak dapat tergantikan oleh teknologi. Sedangkan untuk mendalami karakter yang saya temukan dalam diri anak tentunya perlu meluangkan waktu yang lebih banyak, selain kedekatan rohasi, fisik pun tidak kalah pentingnya. Sehingga pemikiran KHD ini saya relevansikan dalam kelas dengan bentuk penghambaan dengan tulus. Pendidikan yang berhamba pada anak,, sebagai guru benar-benar tulus ikhlas memahami karakteristik anak yang berbeda-beda, dengan segala permasalahan dan pemecahannya. Menuntun anak untuk dapat mengenali dan mengembangkan potensinya. Dengan menghamba, guru dapat meciptakan pendidikan dan pengajaran yang dapat menjadi kendali bagi tabiat-tabiat anak yang tidak baik dan dapat menebalkan dasar jiwa yang baik, sehingga nampak budi pekerti yang baik

Setelah mempelajari modul tentang pemikiran KHD ini menjadikan saya lebih termotivasi untuk terus melanjutkan proses pengajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan harapan bahwa, saya dapat menjadi pendidik yang solutif terhadap kekurangan dan kelebihan peserta didik. Sehingga peserta didik lebih terbuka, memahami dan menerima dirinya serta bersama membuat kesepakatan untuk masa depan hidup lahir dan batin yang merdeka.

Salam Bahagia

Artikel Terpopuler

Kesenian Karawitan Sigro-Sigro