Minggu, 18 September 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif


Untuk menciptakan budaya positif di  sekolah, kita memerlukan lingkungan yang positif, yang sadar akan pentingnya kerja sama warga sekolah untuk saling belajar dan kolaboratif mendukung satu sama lain, melakukan pembiasaan-pembiasaan disiplin positif yang berkelanjutan sehingga dapat menuntun karakter baik yang melekat sebagai budaya positif berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini. Pembiasan disiplin positif dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan akan memunculkan keyakinan yang kuat dari dalam diri anak untuk berperilaku atau disebut sebagai motivasi internal, yaitu sebagai upaya untuk menghargai diri sendiri. Ketika anak berperilaku dengan motivasi untuk menghargai diri sendiri ini akan memperkuat konsep diri, karena kontrol berada pada diri mereka sendiri, anak tidak akan mudah terpengaruh dari luar dan akan senantiasa fokus pada nilai yang diyakini. Beberapa dari mereka melakukan perilaku karena dua alasan, yakni untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman dan karena menginginkan penghargaan. Adakalanya anak perlu untuk terbuka dan menerima motivasi eksternal itu karena kesadarannya sebagai makhluk sosial dan kebutuhannya untuk dihargai. Namun penghargaan dan hukuman ini tidak dapat berlangsung  lama dalam memotivasi anak untuk berperilaku karena tidak menumbuhkan kesadaran diri.

Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. Jika anak belum memahami  nilai-nilai kebajikan sehingga belum mampu untuk mengontrol diri sendiri atas perilakunya, maka anak perlu dorongan dari luar yang datang dari guru, keluarga, dan lingkungan untuk membantunya menggali keyakinan dan menemukan motivasi internalnya sehingga anak dapat mengembangkan potensi dirinya dengan kedisiplinan yang dilakukan karena kesadaran diri.

Praktik pendisiplinan di sekolah dengan restitusi merupakan metode untuk penyusunan kembali model disiplin di sekolah, dengan mengajak murid untuk mengidentifikasi kembali tindakannya, sehingga dia bisa menganalisis dan memikirkan langkah yang tepat dalam pemecahannya. Konsep restitusi dapat membangun disiplin positif di sekolah dengan membantu memahami perilaku anak dan membangun hubungan yang lebih baik antara guru dan murid sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman. Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) memberikan strategi untuk restitusi dengan menerapkan segitiga restitusi, yang terdiri dari tiga tahap, yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Menstabilkan identitas bertujuan mengubah identitas anak yang bersalah dari orang gagal menjadi orang sukses, dengan memberikan pemahaman bahwa kesalahan merupakan bagian dari pembelajaran. Sehingga murid tidak berlarut dalam kesedihan dan perasaan bersalah tanpa upaya memperbaiki diri dan keadaan. Pada tahap kedua, guru harus memahami alasan atau kebutuhan di balik perilaku murid. Perlu pemahaman bagi guru dan murid untuk mengenali kebutuhan dengan tetap memperhatikan kepentingan orang lain karena semua orang  memiliki kebutuhan dasar bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kebebasan, dan kesenangan. Tahap ketiga, yaitu menanyakan keyakinan dengan menuntun murid memasuki kesadaran moralnya atas nilai-nilai kebajikan yang diyakini dan menjadi kesepakatan bersama. Tidak berhenti pada kesadaran akan kesalahannya, namun memberikan ruang kepada murid untuk memberikan solusi yang lebih baik. Disinilah posisi kontrol guru sangat berperan, apakah sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau, atau manajer.

Dengan mensosialisakan dan memberikan pemahaman pemecahan masalah dengan restitusi kepada murid, diharapkan akan membantu  mewujudkan kepemimpinan murid.

Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, dan modul 1.3 tentang visi guru penggerak saling terkait dan merupakan dasar untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Budaya positif sebagai tuntunan pendidikan bagi murid untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Menjadi  pembelajar sepanjang hayat yang berprofil pelajar Pancasila. Budaya positif dapat terwujud dengan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman, yang harus dilakukan oleh semua warga sekolah dengan menerapkan nilai-nilai berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif.

Budaya positif di sekolah dapat mendukung terwujudnya visi sekolah. Seorang guru penggerak  diharapkan mampu menjadi pelopor perubahan, diawali dengan menjadi pemimpin pembelajaran yang memiliki visi atau mimpi yang kuat untuk dapat mendorong kolaborasi dan menggerakkan komunitas di  sekolah. Dengan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis aset, mengidentifikasi hal  baik yang ada di sekolah dan melakukan upaya untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik, bersama warga sekolah membuat prakarsa perubahan dengan pendekatan BAGJA. Dengan pendekatan inkuiri apresiatif ini, dapat mewujudkan visi sekolah yang berorientasi pada murid.

Kamis, 15 September 2022

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelejaran Berdiferensiasi

 Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi


  • Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi  kebutuhan belajar murid. Muncul karena kesadaran guru atas  keunikan dan keberagaman murid dalam kesatuan proses pembelajaran. Menyadari keberagaman individu murid tersebut, maka seorang guru perlu untuk merancang dan melaksanakan rangkaian pembelajaran berdiferensiasi yang dapat membantu menuntun murid yang bahagia dan merdeka sesuai dengan kebutuhannya.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas dapat dilakukan dengan:

  1. Menentukan tujuan pembelajaran
  2. Mengidentifikasi kebutuhan belajar murid (kesiapan, minat, dan profil belajar murid)
  3. Mengidentifikasi strategi pembelajaran berdiferensiasi yang akan diterapkan (konten, proses, atau produk)
  4. Mengimplemetasikan RPP berdiferensiasi dalam pembelajaran di kelas
  5. Mempersiapkan, melakukan, dan menganalisis asesmen (pra asesmen, asesmen formatif, dan asesmen sumatif)

 

  •          Jelaskan bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Jelaskan pula bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak

Seorang guru perlu memetakan kebutuhan belajar murid untuk memperoleh gambaran tentang apa yang dibutuhkan murid dan apa yang akan dicapai yang bertujuan agar mencapai  hasil belajar yang optimal. 3 aspek kebutuhan belajar murid yang perlu didentifikasi guru, diantaranya:

  1. Kesiapan belajar, yaitu kesesuaian antara materi, konsep atau keteranpilan baru yang  akan diajarkan dengan keterampilan dan pengetahuan murid sebelumnya. Tujuannya untuk memodifikasi tingkat kesulitan bahan pembelajaran, sehingga diharapkan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya
  2. Minat belajar, yaitu ketertarikan murid untuk terlibat dalam pembelajaran
  3. Profil belajar, yaitu memberikan kesempatan murid untuk belajar secara natural dan efisien sesuai dengan gaya belajar mereka (visual, auditri, atau kinestetik)

Berdasarkan pemetaan kebutuhan belajar murid tersebut, maka guru dapat menentukan strategi pembelajaran berdiferensiasi yang akan diterapkan agar murid termotivasi  dalam kegiatan belajar yang dirasakan menyenangkan, yang meliputi:

  1. Diferensiasi konten, yaitu apa yang akan diajarkan berdasarkan kesiapan belajar, minat, atau profil belajar murid.
  2. Diferensiasi proses, yaitu bagaimana kebutuhan murid terpenuhi melalui serangkaian proses pembelajaran? Apakah  dengan belajar mandiri atau berkelompok.
  3. Diferensiasi produk, yaitu tagihan apa yang kita harapkan dari murid.

Pada modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi ini sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menuntun murid sesuai dengan kodratnya agar selamat dan bahagia. Disini guru dengan warga sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid atau berorientasi pada  murid perlu menerapkan nilai-nilai guru penggerak (berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif) dan peran guru penggerak, yaitu sebagai pemimpin pembelajaran, coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi. Setiap guru dalam komunitas belajar di sekolahnya yang sudah tergerak dan bergerak bersama guru penggerak, penting dan perlu untuk dapat bekerja sama menggerakkan, melakukan perubahan sebagai visinya guru penggerak untuk pengembangan sekolah dengan menganalisis dan melaksanakan visi sekolah yang diimplementasikan dalam program atau kegiatan yang berdasar pada kebutuhan belajar murid yang dilakukan secara berkelanjutan sehingga menjadi budaya positif yang dapat dilakukan oleh semua warga sekolah sebagai bentuk kesadaran penuh atas nilai-nilai kebajikan yang diyakini.

Artikel Terpopuler

Kesenian Karawitan Sigro-Sigro