Untuk
menciptakan budaya positif di sekolah,
kita memerlukan lingkungan yang positif, yang sadar akan pentingnya kerja sama
warga sekolah untuk saling belajar dan kolaboratif mendukung satu sama lain,
melakukan pembiasaan-pembiasaan disiplin positif yang berkelanjutan sehingga
dapat menuntun karakter baik yang melekat sebagai budaya positif berdasarkan
nilai-nilai kebajikan yang diyakini. Pembiasan disiplin positif dengan
menanamkan nilai-nilai kebajikan akan memunculkan keyakinan yang kuat dari
dalam diri anak untuk berperilaku atau disebut sebagai motivasi internal, yaitu
sebagai upaya untuk menghargai diri sendiri. Ketika anak berperilaku dengan
motivasi untuk menghargai diri sendiri ini akan memperkuat konsep diri, karena
kontrol berada pada diri mereka sendiri, anak tidak akan mudah terpengaruh dari
luar dan akan senantiasa fokus pada nilai yang diyakini. Beberapa dari mereka
melakukan perilaku karena dua alasan, yakni untuk menghindari ketidaknyamanan
atau hukuman dan karena menginginkan penghargaan. Adakalanya anak perlu untuk
terbuka dan menerima motivasi eksternal itu karena kesadarannya sebagai makhluk
sosial dan kebutuhannya untuk dihargai. Namun penghargaan dan hukuman ini tidak
dapat berlangsung lama dalam memotivasi
anak untuk berperilaku karena tidak menumbuhkan kesadaran diri.
Berikut adalah rancangan tindakan yang dilakukan dalam aksi nyata dan video pelaksanaan kegiatan kesepakatan kelas yang dilakukan guru dan murid di kelas.
Praktik
pendisiplinan di sekolah dengan restitusi merupakan metode untuk penyusunan
kembali model disiplin di sekolah, dengan mengajak murid untuk mengidentifikasi
kembali tindakannya, sehingga dia bisa menganalisis dan memikirkan langkah yang
tepat dalam pemecahannya. Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring
School Discipline (1998) memberikan strategi untuk restitusi dengan menerapkan
segitiga restitusi, yang terdiri dari tiga tahap, yaitu menstabilkan identitas,
memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Disinilah posisi kontrol guru sangat
berperan, apakah sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau,
atau manajer.
Dengan mensosialisakan
dan memberikan pemahaman pemecahan masalah dengan restitusi kepada murid,
diharapkan akan membantu mewujudkan
kepemimpinan murid. Berikut adalah video praktik segitiga restitusi di sekolah:
Budaya positif dapat terwujud dengan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman, yang harus dilakukan oleh semua warga sekolah dengan menerapkan nilai-nilai berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Berikut video sesi berbagi pemahaman dan pengalaman penerapan budaya positif bersama di Sekolah.
.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar