Rabu, 31 Agustus 2022

Modul 1.4 Budaya Positif



Untuk menciptakan budaya positif di  sekolah, kita memerlukan lingkungan yang positif, yang sadar akan pentingnya kerja sama warga sekolah untuk saling belajar dan kolaboratif mendukung satu sama lain, melakukan pembiasaan-pembiasaan disiplin positif yang berkelanjutan sehingga dapat menuntun karakter baik yang melekat sebagai budaya positif berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini. Pembiasan disiplin positif dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan akan memunculkan keyakinan yang kuat dari dalam diri anak untuk berperilaku atau disebut sebagai motivasi internal, yaitu sebagai upaya untuk menghargai diri sendiri. Ketika anak berperilaku dengan motivasi untuk menghargai diri sendiri ini akan memperkuat konsep diri, karena kontrol berada pada diri mereka sendiri, anak tidak akan mudah terpengaruh dari luar dan akan senantiasa fokus pada nilai yang diyakini. Beberapa dari mereka melakukan perilaku karena dua alasan, yakni untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman dan karena menginginkan penghargaan. Adakalanya anak perlu untuk terbuka dan menerima motivasi eksternal itu karena kesadarannya sebagai makhluk sosial dan kebutuhannya untuk dihargai. Namun penghargaan dan hukuman ini tidak dapat berlangsung  lama dalam memotivasi anak untuk berperilaku karena tidak menumbuhkan kesadaran diri.

Berikut adalah rancangan tindakan yang dilakukan dalam aksi nyata dan video pelaksanaan kegiatan kesepakatan kelas yang dilakukan guru dan murid di kelas.



 

Praktik pendisiplinan di sekolah dengan restitusi merupakan metode untuk penyusunan kembali model disiplin di sekolah, dengan mengajak murid untuk mengidentifikasi kembali tindakannya, sehingga dia bisa menganalisis dan memikirkan langkah yang tepat dalam pemecahannya. Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) memberikan strategi untuk restitusi dengan menerapkan segitiga restitusi, yang terdiri dari tiga tahap, yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Disinilah posisi kontrol guru sangat berperan, apakah sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau, atau manajer.

Dengan mensosialisakan dan memberikan pemahaman pemecahan masalah dengan restitusi kepada murid, diharapkan akan membantu  mewujudkan kepemimpinan murid. Berikut adalah video praktik segitiga restitusi di sekolah:  


Budaya positif dapat terwujud dengan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman, yang harus dilakukan oleh semua warga sekolah dengan menerapkan nilai-nilai berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Berikut video sesi berbagi pemahaman dan pengalaman penerapan budaya positif bersama di Sekolah.





Artikel Terpopuler

Kesenian Karawitan Sigro-Sigro